Post Image
09 Nov 2017

PRINCESS FROM JAVA

RATU DARI JAWA

Pada tahun 1830-an, bangsawan Jawa harus memiliki gelar Raden Ayu (Putri) untuk diakui sebagai bagian dari keluarga bangsawan. Aturan kasta diterapkan pada Kartini dan kedua saudara perempuannya, Kardinah dan Roekmini.

Kartini, Roekmini, dan Kardinah adalah anak perempuan Bupati Jepara, Raden Mas Sosroningrat, dari dua ibu yang berbeda. Kartini dan Kardinah adalah anak perempuan Ngasirah, seorang wanita sarjana agama. Sementara itu, Roekmini lahir dari keturunan bangsawan dari Madura, Raden Ayu Moeryam.

Sejak berumur 5 tahun, Kartini dan Kardinah dipisahkan dari Ngasirah. Dia memisahkan diri dari anak-anaknya untuk membiarkan mereka tinggal di rumah utama. Dia juga rela dipanggil Yu (Pembantu) oleh Kartini dan Kardinah dan juga anak-anaknya yang lain, dan hidup seperti pembantu di sebuah rumah besar.

Kartini (Kardinah dan Roekmini juga), harus diisolasi di rumah (Pingitan), sejak saat dia menjalani menstruasi pertama. Dia tidak bisa meninggalkan rumah atau menemui pengunjung, tidak sampai seorang pangeran kerajaan datang untuk melamarnya. Dalam masa pengasingannya, dia juga diajarkan bagaimana menjadi Raden Ayu. Dia belajar bagaimana melayani suami; memasak makanan enak untuknya; untuk menunjukkan etiket yang mulia, seperti cara berjalan, berbicara, dan berperilaku tepat, di hadapannya; dan bagaimana merawat tubuhnya untuk menyenangkan hatinya.

Kartini punya keinginan yang berbeda. Dia ingin mengikuti jalan saudaranya, RM Sosrokartono, untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Namun, keluarganya tidak mengizinkannya pergi ke Belanda, karena dia adalah seorang wanita. Dia merasa frustrasi, tapi Sosrokartono mendorongnya dengan memberikan buku-bukunya, dan memintanya untuk tidak membiarkan pikirannya dipenjara. Dengan dorongannya, Kartini mulai menuliskan pendapatnya.

Tulisannya mengubah nasib Kartini dan saudara perempuannya. Mereka menempatkan mereka sebagai bangsawan cerdas yang peduli dengan perubahan kesetaraan perempuan Jawa. Dengan dukungan pemerintah kolonial Belanda, mereka membuat konsep tentang sekolah perempuan. Kartini juga telah ditawarkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Belanda, mengikuti jejak saudaranya. Namun, keluarganya menolaknya, takut jika tindakan Kartini bisa mematahkan tatanan sosial perempuan Jawa yang ada. Keinginan Kartini dan kedua saudaranya, Roekmini dan Kardinah, ditolak oleh kedatangan rencana nikah. Lagi pula, mereka harus menjadi Raden Ayu seperti bagaimana kebanyakan bangsawan Jawa ...