Post Image
09 Nov 2017

WHY JOMBLO?

KENAPA JOMBLO ?

Saya percaya tidak mudah membuat semua orang tertawa. Karena tertawa butuh konteks, juga referensi. Pertama kali membaca novelnya, sy terkesan dg kejeniusan kang @adhityamulya dalam meramu konten dan konteks fenomena kegalauan remaja Jomblo saat itu. Fenomena yg menurut saya sampai hari ini masih relevan, yaitu persoalan Siapa sebenarnya kita ( di Negeri ini) ? Terutama jika dhadapkan pada relasi Kuasa dan Menguasai antara cowok dg cowok, cowok dg cewek, cowok-cewek dg lingkungan sekitarnya dan lingkungan yang satu (baca: Budaya) dengan lingkungan yg satunya.

Di Film terdahulu dg jelas tergambar relasi tersebut. Agus Gurniwa ( Cowok asal sunda, hidup dalam kuasa tetehnya, galau), Doni ( Asal Jakarta, merdeka tp takluk dg ketakutan akan komitmen dengan cewek), Olip ( Asal Aceh, penyendiri, takluk dalam obesesi pribadinya untuk menjadi pacar Asri) dan Bimo ( Cowok asal Jogja, hidup dalam penolakan cewek terus menerus ). Di Film ini sy tetap menampilkan semua itu, hanya perbedaanya sosok Bimo sbg orang Jogja saya tampilkan dalam sosok Papua. Paska pemilu 2014 hingga pilkada DKI, isyu Pribumi dan Non-Pribumi kembali menguat yang berimbas ke kota kelahiran saya, Jogja, yang pada saat menimpa kawan-kawan Papua. Mereka yg dianggap bukan penduduk asli terancam. Bagi yg memahani konteks itu barangkali bisa relate dg joke-joke di film ini.

Satu hal yg membuat sy merasa bersalah saat membuat Jomblo yg dulu adalah ketika sy menampilkan relasi kuasa cowok-cewek yang terjadi pada tokoh  Agus Gurniwa dan Doni. Agus ( yg diperankan sgt bagus oleh Agus Ringgo ) adalah tipe cowok yg karena takut berkomunikasi hingga kemudian  berselingkuh. Tapi pada akhirnya nasib hubungannya selamat dan berhasil kenbali ke pacar lamanya. Begitupun nasib Doni ( diperankan @csugiono ) cowok yang digambarkan playboy, pengen enak sendiri tapi pada akhirnya juga selamat dan justru berhasil menggaet Asri, cewek incaran sohibnya, Olip. Dari Ending kedua tokoh itu saya seperti memberikan gambaran tentang keberpihakan saya atas pandangan yang memposisikan perempuan semata-mata sbg Obyek pemuas eksistensi laki-laki dan dengan naif menerimanya seolah begitulah nature laki-laki.  Ini yg membuat sy seperti mencederai komedi cerdas dari Kang Adhit. Terlebih lagi ketika dua cowok lain: Bimo dan Olip ( yg dimainkan oleh Dennis Adheswara dan Rizky Hanggono ) yg di akhir kisah justru tak mendapatkan apapun setelah sepanjang film digambarkan diri mereka dinistakan dan diposisikan sbg sub-ordinat perempuan, yang mana, keduanya dikisahkan berasal dari Aceh dan Jogja yang dianggap mewakili stigma 'cowok daerah'. Sebagai sebuah film sebetulnya sah saja menampilkan universe apapun kepada penonton. Tapi sy lebih suka jika universe tersebut ditempatkan pada porsinya. Adil dan imbang. ( mungkin sy memang tergolong kolot dan konsevtive ). Begitulah Jomblo Rebooth ini saya buat, sebagai sebuah medium pengakuan dosa saya sekaligus sebagai medium ekspresi saya mentertawakan diri saya sendiri sambil terus mencari jawaban Siapa sebenarnya diri kita ( di negeri tralala ini ) ?